MTsN 1 HSU Ikut Serta dalam Bimtek Pengembangan Madrasah dan Kurikulum Operasional Madrasah Bersama Tiga MTsN Lainnya di Gedung Nu Alabio

Amuntai, MTsN 1 HSU- Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) serta Kepala Madrasah (Kamad) MTsN 1 Hulu Sungai Utara (HSU) turut serta dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan dan Penyusunan Kurikulum Operasional Madrasah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten HSU pada 11–12 Juni 2026, bertempat di Gedung NU Alabio. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari empat madrasah negeri, yakni MTsN 1, MTsN 3, MTsN 4, dan MTsN 7 HSU.

Keterlibatan MTsN 1 HSU dalam Bimtek ini tidak sekadar sebagai peserta. Dua orang guru madrasah tersebut dipercaya memegang peran penting dalam jalannya acara. Abd. Basid, S.Pd.I. ditunjuk sebagai pembaca Ayat Suci Al-Qur’an pada sesi pembukaan, menandai dimulainya rangkaian kegiatan dengan nuansa Islami yang khidmat. Sementara itu, Ahmad Yani, S.Pd. dipercaya sebagai moderator dalam sesi penyampaian materi, memandu jalannya diskusi dan tanya jawab bersama para peserta.

Bimtek ini diselenggarakan sebagai respons atas kebutuhan mendesak dalam peningkatan kualitas pengelolaan pembelajaran di madrasah. Selama ini, tidak sedikit guru yang belum memiliki pemahaman memadai tentang penyusunan kurikulum operasional yang sesuai dengan dinamika dan tuntutan zaman, sehingga proses belajar-mengajar belum berjalan secara optimal. Melalui forum ini, para pendidik dibekali pengetahuan dan keterampilan teknis yang langsung dapat diterapkan di madrasah masing-masing.

Ketua Panitia sekaligus Kepala MTsN 4 HSU, H. Ahmad Sapawiansyah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran Kepala Kantor Kemenag HSU. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran Bapak Kepala Kantor Kemenag HSU di tengah-tengah kita hari ini. Kehadiran beliau bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata perhatian dan dukungan pimpinan terhadap peningkatan kualitas pendidik di madrasah. Ini menjadi energi tambahan bagi kami semua untuk mengikuti Bimtek ini dengan sungguh-sungguh,” ujar Sapawi, sapaan akrabnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten HSU, Drs. H. M. Rusdi Hilmi, MA., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan mengajar harus memiliki pedoman yang jelas. Beliau juga menyoroti masih banyaknya guru yang belum mampu melaksanakan tugas sesuai tuntutan zaman, serta mengingatkan bahwa kenaikan pangkat harus berbanding lurus dengan peningkatan kinerja. “Mengajar itu harus ada pedomannya. Banyak guru yang sudah diberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat, maka kinerjanya pun harus disesuaikan dengan reward yang telah diterima tersebut. Saya juga mengingatkan kepada rekan-rekan ASN yang sudah mendekati masa pensiun: jangan biarkan semangat itu padam. Ingatlah tugas dan tanggung jawab kita, maka rasa lelah itu insya Allah bisa diatasi. Ikutilah Bimtek ini dengan sebaik-baiknya, agar ilmu yang didapat benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kemajuan madrasah kita masing-masing,” tutur Rusdi Hilmi.

Bimtek ini menghadirkan Ketua Pokjawas Kemenag Kabupaten HSU, H. Rahmad, S.Pd.I., M.M., sebagai pemateri tunggal. Pada hari pertama, beliau membawakan materi inti yang saling berkaitan dengan materi berikutnya untuk hari kedua, dipandu oleh Ahmad Yani, S.Pd. selaku moderator. Materi pertama bertajuk Hakikat Pendidikan Islam Berbasis Rahmatan Lil Alamin mengupas pendekatan neurosains dalam dunia pendidikan. H. Rahmad menjelaskan bahwa otak manusia paling siap belajar dan berkembang ketika ia merasa aman, dicintai, dan tidak tertekan. Sebaliknya, ketika siswa dimarahi, dipermalukan, atau dibentak, bagian otak yang disebut amygdala justru aktif menghambat proses belajar. Oleh karena itu, pendidikan Islam yang sejati harus disampaikan dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana cara Nabi mendidik — tanpa kekerasan dan paksaan, dengan membangun hubungan sebelum memberi koreksi atau dikenal dengan prinsip connection before correction.

Materi di hari kedua akan membahas tentang Konsep Dasar Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Materi ini juga menekankan pentingnya penerapan KBC secara khusus di tingkat MTs, mengingat usia 12–15 tahun merupakan fase paling kritis dalam pembentukan karakter remaja.

“Pendidikan Islam yang sejati tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kasih sayang. Remaja usia MTs adalah fase paling kritis dalam pembentukan karakter. Jika guru hadir dengan cinta dan empati — bukan sekadar dengan buku dan penilaian — maka proses pendidikan itu akan meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dan bermakna. Anak-anak mungkin melupakan apa yang kita ajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka,” jelas H. Rahmad di hadapan para peserta.

Keikutsertaan aktif warga MTsN 1 HSU — baik sebagai peserta maupun sebagai bagian dari tim pelaksana acara — mencerminkan komitmen madrasah dalam mendukung setiap upaya peningkatan mutu pendidikan. Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh selama Bimtek, para pendidik MTsN 1 HSU diharapkan mampu menyusun dan mengembangkan kurikulum operasional yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin — penuh kasih sayang, inklusif, dan berdaya guna bagi generasi penerus bangsa. (Rep/Ft: Masitah)